Pertaruhan Efisiensi dan Kualitas.
Siapa yang mampu menolak kecanggihan yang disajikan oleh era teknologi? Tingginya tuntutan terhadap pemenuhan kebutuhan manusia telah membawa ke arah pertimbangan terhadap efisiensi waktu sebagai aspek esensial di dalam pencapaian target kinerja. Tak ayal, penggunaan mesin “asisten” otomatis saat ini marak diandalkan di mana-mana untuk mempermudah pekerjaan manusia.
Secara khusus, bidang penerjemahan juga berkutat dengan mesin penerjemahan untuk mendukung kinerja para penerjemah dalam menganalisis diksi yang digunakan sebagai elemen bahasa. Berkenaan dengan hal ini, perlu digarisbawahi bahwa keberadaan mesin penerjemahan merupakan fasilitas tambahan dalam dunia penerjemahan, bukan sebagai sarana penerjemahan yang utama.
Mengapa? Tentu saja karena kecanggihan mesin tidak akan mampu menandingi fleksibilitas kemampuan kognitif otak manusia dalam menyesuaikan hasil terjemahan sesuai konteks yang ada.
Bukan merupakan hal yang tabu apabila Anda akhirnya terjebak di tengah kebingungan ketika Anda mencoba menerjemahkan sepenggal paragraf menggunakan mesin penerjemahan, seperti Google Translate. Meskipun kinerjanya mumpuni dan upaya pembaharuan yang konsisten terus dilakukan oleh tim Google, produk terjemahan Google Translate masih memiliki banyak celah.
Oleh karena itu, Anda perlu menimbang kembali penggunaan mesin penerjemahan seperti ini apabila hendak menggali informasi tertentu yang memerlukan proses alih bahasa.
Pada awal peluncurannya di tahun 2006, Google memanfaatkan dokumen-dokumen Linguistik dari organisai Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Parlemen Eropa. Hingga kini, fasilitas penerjemahan Google Translate telah menyediakan terjemahan untuk lebih dari 100 bahasa di seluruh dunia.
Dengan kata lain, dapat kita bayangkan betapa serius dan konsistennya tim Google dalam melakukan pembaruan data terjemahan. Akan tetapi, relasi kultural manusia selalu berjalan dinamis setiap waktu, sehingga berpotensi menciptakan pola bahasa baru. Inilah yang menyebabkan perkembangan mesin selalu terlambat dibandingkan manusia. Bahkan, Google sendiri pun menyampaikan penegasan kepada para penggunanya agar tidak bergantung pada hasil terjemahan Google Translate.
Terlepas fakta kekacauan produk terjemahan yang diproduksi oleh mesin penerjemahan, pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa bisa demikian? Apa yang menyebabkan mesin penerjemahan tidak bisa memproduksi kualitas terjemahan yang reliabel? Di samping pertanyaan semacam itu, mungkin juga sebagian dari kita bahkan berangan-angan mengenai penciptaan suatu teknologi masa depan berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence – AI) yang bisa melakukan reduplikasi kemampuan kognitif otak manusia, sehingga memudahkan pekerjaan dalam bidang penerjemahan.
Seliar-liarnya imajinasi kita, perlu kita ingat bahwa segala hasil cipta karya manusia selalu mengandung celah. Itulah sebabnya kita mengenal kata “perkembangan”, di mana sesuatu yang telah diciptakan tidak akan pernah bertahan secara konstan, tetapi akan mengalami perubahan dan pembaruan (upgrade).
Inilah hal-hal yang dapat dimasukkan ke dalam diskusi. Rendahnya reliabilitas hasil terjemahan yang diproduksi oleh mesin terjemahan merupakan sisi ketidaksempurnaan teknologi sebagai obyek yang bersifat kaku dan tidak dapat berkembang tanpa intervensi manusia sebagai penciptanya. Berikut ini akan disajikan beberapa alasan mengapa teknologi mesin penerjemahan tidak dapat lepas dari peran aktif manusia. Dengan kata lain, akan selalu menjadi pilihan terbaik bagi Anda untuk mengandalkan ahli penerjemahan dibandingkan mesin penerjemahan.
Mesin penerjemahan hanyalah memori pasif yang tidak mengenal dinamika kebudayaan
Kita mengetahui bahwa tiap-tiap ras memiliki bahasa dan gaya bahasanya sendiri. Lebih dari itu, tiap-tiap individu bahkan bisa memunculkan tren bahasa yang beragam, seperti slang dan idiom. Penciptaan tren bahasa seperti inilah yang memuat bias kontekstual di luar jangkauan mesin.
Mesin penerjemahan merupakan sebatas kamus elektronik yang memuat jutaan entri kata, yang dikemas dengan kode-kode sintaksis tertentu. Performanya akan maksimal apabila bahasa sumber yang diinput nyaris sempurna sesuai tata kelola kebahasaan yang termuat di dalam entri mesin tersebut.
Terlebih lagi, kita tidak dapat menafikan keberadaan berbagai sinonim yang kemunculannya bisa beragam dalam kategori entri kata. Akan tetapi, pada kategori entri kalimat utuh, mesin penerjemahan juga tidak mampu melakukan filtrasi istilah yang tepat sesuai konteks yang diperlukan dan tidak dapat melakukan koreksi.
Sulit melakukan pelokalan terhadap variasi bahasa
Berbagai frasa baru terus bermunculan di dalam berbagai dialek yang ada. Revolusi teknologi pun berkontribusi terhadap diseminasi tren tersebut ke seluruh dunia. Mesin penerjemahan tidak akan mampu menyesuaikan dengan perkembangan seperti ini layaknya yang dilakukan oleh manusia.
Mesin harus selalu diperbarui secara teratur untuk “mempelajari” frasa baru tersebut berdasarkan intensitas kemunculannya. Pemrograman pun akhirnya harus dilaksanakan secara berkesinambungan dengan menggunakan berbagai algoritma canggih dalam jangka waktu yang signifikan. Oleh sebab itu, mesin terjemahan akan selalu beberapa langkah tertinggal di belakang capaian progres manusia.
Mesin tidak mampu mereplikasi gaya bahasa dan sentimen bahasa
Setiap transkrip teks memiliki tujuan penggunaan dan sasaran pembaca yang berbeda-beda. Hal ini juga akan berpengaruh pada gaya bahasa dan sentimen bahasa yang digunakan. Berkaitan dengan poin ini, dokumen hukum akan cenderung menyajikan diksi-diksi yang arkais dengan nada yang sangat formal dan kaku. Sementara itu, dokumen esai opini akan terkesan lebih luwes dan ringan.
Sebagai contoh, ketika Anda mencoba menerjemahkan kata “pengeluaran”, Google Translate akan secara acak menyajikan beberapa pilihan terjemahan di dalam Bahasa Inggris. Akan tetapi, apabila Anda menginput kata “pengeluaran” di dalam sebuah kalimat utuh, mesin penerjemahan tidak dapat mendeteksi jenis teks yang tengah Anda susun, apakah teks tersebut merupakan jenis teks kajian ekonomi, hukum, ataukah argumentasi?
Ketika Anda menyusun teks opini, kata “pengeluaran” bisa saja Anda terjemahkan sebagai outcome. Akan tetapi, ketika Anda menyusun sebuah teks yang sarat dengan kajian ilmu ekonomi ataupun hukum, kata “pengeluaran” paling tepat diterjemahkan sebagai expenditure.
Kemampuan analisis seperti inilah yang tidak bisa diotomatisasi oleh perangkat komputer. Sekali lagi, manusia menjadi pemain garda depan, sementara mesin hanya menanti perbaikan.
Hasil terjemahan mesin perlu diteliti ulang
Anda akan terancam kehilangan waktu secara sia-sia. Anda juga berpotensi mengerjakan penerjemahan ulang dari apa yang telah dihasilkan mesin penerjemah. Isu-isu terkait tata bahasa memerlukan proses pengeditan dan pembacaan manual agar diperoleh ekuivalensi makna antara bahasa sumber dan bahasa sasaran sesuai konteks yang ingin dipaparkan. Siapa yang bisa mengerjakan ini? Lagi-lagi manusia.
Tidak terjaminnya asas kerahasiaan
Inilah yang paling berbahaya. Mesin penerjemahan tak berbayar biasanya tidak menandatangi NDA (Non-Disclosure Agreement), yaitu semacam pakta integritas terkait larangan pengungkpan informasi pengguna. Jika Anda bekerja dengan dokumen-dokumen yang bersifat sensitif, seperti dokumentasi medis, laporan keuangan, serta informasi karyawan dan klien,
Anda harus selalu waspada ketika menggunakan mesin penerjemah. Karena tidak adanya jaminan NDA, mesin penerjemahan bebas mengeksplorasi segala data yang Anda input dan mencantumkannya sebagai entri baru untuk peningkatan kualitas terjemahan. Hal ini bisa terjadi kepada siapa saja dan kapan saja.
Kompleksitas perkembangan bahasa harus memperoleh atensi kita secara khusus guna meningkatkan sensitivitas lingual kita. Sementara itu, masifnya disrupsi teknologi harus kita respon secara bijak. Teknologi mesin penerjemah adalah fasilitas referensi bagi kami bukan sarana bergantung untuk menghasilkan produk terjemahan final. Oleh karena itu, penerjemahan dokumen-dokumen urgen sebaiknya dikonsultasikan dengan penerjemah yang handal.
Referensi:
